Prospek Pertumbuhan Kawasan Asia Berkembang Kian Meningkat

0
43

MANILA, FILIPINA (20 Juli 2017) — Prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang berkembang pada 2017 meningkat berkat permintaan ekspor yang lebih besar daripada perkiraan di kuartal pertama tahun ini, demikian menurut laporan baru dari Asian Development Bank (ADB).

Dalam laporan tambahan bagi Asian Development Outlook 2017, ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan kawasan ini dari 5,7% menjadi 5,9% pada 2017, dan dari 5,7% menjadi 5,8% pada 2018. Kenaikan yang lebih kecil pada proyeksi 2018 mencerminkan pandangan yang berhati-hati terkait keberlanjutan dorongan ekspor tersebut.

“Kawasan Asia yang sedang berkembang mengawali tahun ini dengan baik, karena peningkatan ekspor mendorong prospek pertumbuhan seterusnya sepanjang 2017,” jelas Yasuyuki Sawada, Ekonom Kepala ADB. “Meskipun masih ada ketidakpastian mengenai seberapa kuatnya pemulihan ekonomi global, kami berpandangan bahwa perekonomian kawasan ini siap menghadapi kemungkinan jika proyeksi tersebut meleset.”

Secara keseluruhan, pertumbuhan perekonomian industri besar diperkirakan akan tetap pada 1,9% pada 2017 dan 2018. Membaiknya prakiraan di kawasan Uni Eropa dan Jepang adalah karena kuatnya permintaan domestik, sehingga mampu mengimbangi penurunan tipis pertumbuhan di Amerika Serikat menjadi 2,2% dari yang sebelumnya diproyeksikan sebesar 2,4%, akibat angka pertumbuhan kuartal pertama 2017 yang mengecewakan.

Menurut sub-kawasan, proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara diperkirakan tetap sebesar 4,8% pada 2017 dan 5,0% pada 2018, dengan akselerasi pertumbuhan di Malaysia, Filipina, dan Singapura, meskipun tren ini sedikit tertahan akibat pertumbuhan di Brunei Darussalam yang lebih lemah dari harapan semula. Permintaan domestik yang kuat — terutama pengeluaran rumah tangga dan investasi — akan terus menopang pertumbuhan sub-kawasan ini, menurut laporan tersebut.

Pertumbuhan di Asia Timur direvisi meningkat hingga 6,0% pada 2017 dan 5,7% pada 2018, dari proyeksi awal masing-masing 5,8% dan 5,6%. Setelah pertumbuhannya melambat baru-baru ini, kenaikan ekspor bersih dan konsumsi domestik telah mendongkrak prospek pertumbuhan di Republik Rakyat Tiongkok. Perekonomian terbesar kedua di dunia ini kini diperkirakan akan tumbuh 6,7% pada 2017 dan 6,4% pada 2018.

Asia Selatan masih menjadi sub-kawasan yang tumbuh paling cepat dari antara semua sub-kawasan di Asia dan Pasifik, dengan pertumbuhan yang mampu mencapai proyeksi awal 7,0% pada 2017 dan 7,2% pada 2018, menurut laporan tersebut. India — perekonomian terbesar di sub-kawasan ini — diperkirakan mampu mencapai proyeksi pertumbuhan sebelumnya sebesar 7,4% pada 2017 dan 7,6% pada 2018, terutama karena tingkat konsumsi yang kuat.

Proyeksi untuk Asia Tengah tahun ini juga membaik seiring menguatnya permintaan domestik dan ekspor di sejumlah negara sehingga membawa pemulihan tak terduga bagi sub-kawasan ini. Pertumbuhan diperkirakan dapat mencapai 3,2% pada 2017 dan 3,8% pada 2018, dibandingkan dengan proyeksi awal masing-masing sebesar 3,1% dan 3,5%.

Pertumbuhan di Pasifik diperkirakan tetap sebesar 2,9% pada 2017 dan 3,3% pada 2018 dengan Papua Nugini — perekonomian terbesar di sub-kawasan ini — melanjutkan pemulihannya secara perlahan berkat membaiknya industri pertambangan dan pertanian. Prospek pariwisata yang lebih baik juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan lebih lanjut di sub-kawasan ini, terutama di Fiji dan Palau.

Sementara itu, inflasi harga konsumen di Asia dan Pasifik diproyeksikan lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya, karena stabilnya harga minyak dan pangan internasional, meskipun ada kenaikan permintaan, berkat cukupnya pasokan dan kondisi cuaca yang bersahabat. Inflasi harga saat ini diperkirakan akan menurun ke 2,6% pada 2017 dan 3,0% pada 2018, dibandingkan dengan proyeksi awal masing-masing sebesar 3,0% dan 3,2%.

ADB, yang berbasis di Manila, dikhususkan untuk mengurangi kemiskinan di Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan yang menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan integrasi kawasan. Didirikan tahun 1966, ADB telah menandai 50 tahun kemitraan pembangunan di kawasan ini. ADB dimiliki oleh 67 anggota—48 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik. Pada 2016, total bantuan ADB mencapai $31,7 miliar, termasuk $14 miliar dalam bentuk pembiayaan bersama (cofinancing).

LEAVE A REPLY