Bank Dunia: Pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik Kemungkinan Tetap Tangguh

0
143

Laporan terbaru merekomendasikan pembuat kebijakan untuk terus mengatasi kerentanan makro ekonomi, memperbaiki mutu belanja pemerintah dan meningkatkan integrasi untuk mempertahankan ketangguhan wilayah

 

SINGAPURA, 13 April 2017 — Prospek negara-negara berkembang Asia Timur akan tetap positif untuk tiga tahun ke depan, didorong oleh permintaan domestik yang kuat, mulai pulihnya ekonomi global serta harga komoditas, demikian menurut laporan Bank Dunia terbaru. Tingkat kemiskinan di kawasan Asia Timur juga akan turun, didorong oleh pertumbuhan yang berkelanjutan dan naiknya pendapatan tenaga kerja.

Bagaimanapun juga kerentanan domestik dan lingkup global masih membawa risiko untuk kawasan ini. Mengingat adanya penurunan suku bunga di Amerika Serikat, serta sentimen proteksionisme di beberapa negara maju, ekspansi kredit yang cepat dan tingkat hutang yang tinggi di beberapa negara Asia Timur, maka laporan ini merekomendasikan pembuat kebijakan untuk terus berfokus pada tata kelola makroekonomi yang penuh kehati-hatian serta memastikan neraca fiskal yang berkelanjutan untuk jangka menengah.

Menurut laporan yang berjudul East Asia and Pacific Economic Update, ekonomi Tiongkok akan terus melambat secara bertahap, seiring dengan usaha negara tersebut menyeimbangakan konsumsi dan jasa. Pertumbuhan Tiongkok diproyeksikan menjadi 6,5 persen di tahun 2017, dan 6,3 persen di tahun 2018. Pertumbuhan Tiongkok di tahun 2016 adalah 6,7 persen. Untuk kawasan lain, termasuk negara-negara besar Asia Tenggara, pertumbuhan diproyeksikan naik menjadi 5 persen pada tahun 2017 dan 5,1 persen di tahun 2018, naik dari tingkat pertumbuhan 4,9 persen di tahun 2016. Secara keseluruhan, ekonomi negara-negara berkembang Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan naik menjadi 6,2 persen di tahun 2017dan 6,1 persen di tahun 2018.

Kebijakan yang kuat serta kenaikan proyeksi perekonomian global secara betahap telah membantu negara-negara berkembang Asia Timur dan Pasifik untuk mempertahankan pertumbuhan dan menurunkan kemiskinan,” ujar Victoria Kwakwa, Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. “Untuk mempertahankan ketangguhan ini, negara-negara tersebut harus mengurangi kerentanan fiskal dan pada saat yang sama meningkatkan mutu belanja pemerintah, serta memperkuat integrasi regional dan global.”   

Pertumbuhan kawasan akan terus ditopang oleh permintaan domestik yang kuat, termasuk dari publik dan investasi swasta. Tren ini akan ditopang oleh kenaikan ekspor secara bertahap, seiring dengan pemulihan perekonomian berkembang. Lambatnya pemulihan harga komoditas akan menguntungkan eksportir komoditas di wilayah tersebut, tapi tidak akan terlalu merugikan ekonomi negara-negara importir komoditas di Asia Timur.

Pertumbuhan di Tiongkok akan terus melambat, yang mencerminkan dampak dari tindakan pemerintah untuk menurunkan kelebihan kapasitas dan ekspansi kredit. Alhasil, laporan memperkirakan pelemahan aktivitas di sektor real estate.  

Ekonomi negara-negara besar dan berkembang ASEAN akan menguat lebih cepat pada tahun 2017-18, karen faktor yang berbeda-beda. Filipina akan mendapat keuntungan dari belanja publik yang lebih tinggi untuk infrastruktur, kenaikan investasi swasta, ekpansi kredit dan bertambahnya pemasukan dari luar negeri. Pertumbuhan akan menguat ke 6,9 persen pada tahun 2017 dan 2018. Subsidi pemerintah yang lebih tinggi serta belanja infrastruktur yang lebih banyak dan kenaikan ekspor akan menaikkan pertumbuhan ekonomi Malaysia menjadi 4,3 persen di tahun 2017 dan 4,5 persen di tahun 2018.

Di Indonesia, ekspansi kredit dan kenaikan harga minyak akan mendorong perekonomian tumbuh ke 5,2 persen di tahun 2017, naik dari 5 persen di tahun 2016. Di Vietnam, pertumbuhan akan naik menjadi 6,3 persen, seiring dengan sentimen pasar yang positif dan investasi asing langsung yang kuat.

Ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan secara umum akan mendapat manfaat dari ketangguhan perekonomian negara tetangga mereka yang lebih besar, serta sebagian dari mereka akan mendapat keuntungan dari harga komoditas yang lebih tinggi. Ekonomi Kamboja akan naik menjadi 6,9 persen di tahun 2017 dan 2018, seiring dengan naiknya belanja publik serta ekspansi di bidang pertanian dan pariwisata yang mengimbangi penurunan di bidang konstruksi dan garmen. Ekonomi Myanmar akan naik ke 6,9 persen di tahun 2017 dan 7,2 persen di tahun 2018, naik dari 6,5 persen di tahun 2016, seiring dengan kenaikan belanja infrastruktur dan adanya reformasi struktural yang akan memancing investasi asing.

Ekonomi di Papua Nugini secara bertahap akan pulih, didorong oleh berbagai proyek baru di sektor tambang dan migas. Ekonomi Mongolia akan stagnan di tahun 2017, seiring dengan upaya pemerintah untuk memulihkan hutangnya ke tingkat yang lebih baik. Pemulihan skala kecil diproyeksikan akan terjadi di tahun 2018.

“Terlepas dari proyeksi yang positif, ketahanan wilayah tetap tergantung oleh keputusan pembuat kebijakan yang mempertimbangkan dan menyesuaikan ketidakpastian global dan kerentanan domestik,” ujar Sudhir Shetty, Ekonom Utama Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. “Pembuat kebijakan harus memprioritaskan kebijakan yang mengatasi kebijakan global yang dapat mengancam ketersedian dan biaya keuangan eksternal, serta pertumbuhan ekspor. Perlu ada upaya untuk memperkuat kebijakan dan kerangka insititusional untuk mempercepat pertumbuhan produktivitas.

Laporan ini menyerukan adanya kehati-hatian makroekonomi untuk mengatasi risiko besar bagi prospek perekonomian di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Peningkatan pendapatan fiskal dapat membantu pemerintahan di seluruh kawasan untuk mendanai program yang bisa meningkatkan pertumbuhan dan memperkuat inklusivitas, serta pada saat yang sama mengurangi risiko terhadap kesinambungan fiskal.  Beberapa negara lebih kecil dengan ekonomi yang berbasis ekspor komoditas harus mengambil langkah untuk meningkatkan kemampuan fiskal. Dengan naiknya inflasi – meski dari tingkat yang rendah – dan kemungkinan pemasukan arus modal yang lebih bergejolak, laporan ini mengatakan pembuat kebijakan harus menyesuaikan kebijakan keuangan mereka.

Untuk Tiongkok, laporan merekomendasi pemerintah untuk meneruskan usahanya untuk menurunkan hutang korporat dan merestrukturisasi badan usaha milik negara, memperketat peraturan bagi aktivitas bank gelap dan mengatasi kenaikan hutang kredit kepemilikan rumah. Reformasi untuk mengurangi kelebihan kapasitas industri dapat ditopang dengan memperkuat transfer sosial dan kebijakan tenaga kerja. Dengan tetap tingginya pertumbuhan kredit di hampir seluruh kawasan, termasuk di Vietnam, Filipina, dan Laos, laporan ini juga menyarankan adanya penekanan terhadap penguatan regulasi dan pengawasan yang lebih tajam.

Tantangan jangka lebih panjang untuk kawasan ini adalah mempertahankan pertumbuhan tinggi sambil memastikan adanya inklusivitas yang lebih besar. Pemerintah dapat mengatasi tantangan ini dengan meningkatkan produktivitas dan investasi, yang telah melambat di beberapa negara akhir-akhir ini, juga meningkatkan mutu belanja negara.

Di tengah naiknya sentimen proteksionisme di luar kawasan, Asia Timur dapat mengambil peluang untuk memperkuat integrasi kawasan, termasuk dengan memperdalam inisiaitif yang sudah berjalan, mengurangi hambatan mobilitas tenaga kerja dan memperluas arus lalu-lintas barang dan jasa di dalam kawasan ekonomi ASEAN.  

Selanjutanya, laporan ini juga mengatakan bahwa pembuat kebijakan dapat menempatkan prospek ekonomi masa depan pada jalur yang lebih berkelanjutan jika mereka mengambil langkah untuk mengurangi polusi yang disebabkan oleh pertanian. Hal ini merupakan ancaman seiring dengan meningkatnya intensifikasi pertanian di wilayah tersebut.

The East Asia and Pacific Update merupakan ulasan komprehensif Bank Dunia mengenai ekonomi kawasan.. Laporan dikeluarkan dua kali tiap tahun dan tersedia untuk umum di: http://www.worldbank.org/eapupdate 

LEAVE A REPLY